Minggu, 27 Maret 2016

SEJARAH SARI LERAK IBOEKU

Sari lerak iboeku adalah (Sapindus rarak De Candole, dapat pula S. mukorossi) Lerak  atau dikenal juga sebagai rerek atau sebuah ramuan pencuci yang berbahan dasar lerak yang di ambil dari sarinya. sari lerak iboeku adalah ramuan khusus R.Ay. Kadarwati konon beliau adalah seorang tokoh ahli ramuan tradisional pemilik perusahaan jamu tradisional Putri Ayu Solo yang berbahan baku rempah, beliau mendapatkan ilmu dari eyang-nya dan juga para leluhur yang berada di lingkungan kraton kasunanan Surakarta tepatnya pada era  P.B IX.

Sari Lerak sebenarnya sudah di produksi sejak lama pada waktu jamu- jamu tradisional di produksi tetapi pada era batik tidak populer sari lerak kurang di minati oleh masyarakat. berjalannya dengan kemajuan ilmu batik dan teknologi yang di dukung oleh pemerintah Indonesia batik mendapatkan prioritas produksi asli dari Indonesia.
 maka banyak sekali tumbuh sentra sentra batik dan program pemerintah yang fokus kepada belajar membatik dan mengetahui cara perawatannya.  ramuan khusus sari lerak tersebut di teruskan oleh para anak cucu R.Ay Kadarwati yang bernama R.Ay Agustin Merdikowati.oleh karna itu sari lerak sekarang di produksi secara besar besaran untuk mencukupi kebutuhan pasar tentang guna perawatan kain batik, tenun, lurik,Dll khususnya untuk menjaga unsur warna supaya tetap awet dan tidak pudar.

SPESIFIKASI :
BUAH LERAK ( Sapindus rarak ) atau dikenal sebagai werek ( Jawa ) dan rerek ( Sunda ), adalah buah dari tanaman Lerak yang secara tradisional telah lama digunakan masyarakat untuk mencuci, jauh sebelum produk sabun sintetis ditemukan karena lerak mempunyai sifat yang sama dengan sabun, yaitu dapat membersihkan kotoran yang menempel pada pakaian.
LERAK dikenal sebagai pembersih tradisional yang kerap dipakai mencuci batik-batik yang mahal agar warnanya tetap utuh cemerlang, jaman dahulu lerak digunakan untuk mencuci keris maupun perangkat dari bahan emas, perak maupun kuningan, kini lerak juga sering dipakai oleh pedagang perhiasan di emperan toko untuk mengkilapkan barang dagangannya sehingga nampak seperti baru.
LERAK masih sesuku dengan tanaman rambutan yaitu Sapindaceae, batangnya dapat mencapai tinggi 42 meter, buahnya bulat, keras berdaging gempal dan kaya air berwarna hitam pekat. Demikianlah sosok lerak, sabun tradisional yang banyak dijual di pasar untuk sekedar mencuci barang mahal.
BUAH LERAK mengandung SAPONIN, saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan memandikan dan membersihkan binatan peliharaa. Kulit buah lerak dapat digunakan sebagai wajah untuk mengurangi jerawat dan kudis.Sifat kimia fisika yang dikandung lerak bertumpu pada tegangan permukaan yang lebih rendah dari air, sehingga lerak mampu menembus pori-pori pakaian dan melepaskan kotoran yang menempel tanpa paksaan bahan kimiawi seperti deterjen. Ini membuat pakaian yang dibersihkan menjadi lebih awet dan tidak mengalami perubahan.
Buih lerak juga konon lebih baik ketimbang buih sabun buatan. Daya luruh buih lerak jauh lebih lama ketimbang daya luruh buih sabun, terlebih lagi tanpa logam alkali dan soda, lerak menjadi lebih unggul karena tidak membuat pakaian kusam dan merapuhkan kain.
Pedagang perhiasan emas dan perak juga memanfaatkan keunggulan lerak ini, emas dan perak menjadi bersih dan tidak rusak. Penghitaman pada emas dan perak terutama, dapat terjadi bila menggunakan bahan pencuci sembarangan. Senyawa hidrofob dan hidrofil pada bahan pencuci sintetislah yang menyebabkan penghitaman itu. Hal ini tentu mengurangi keindahan logam mulia tersebut.

MANFAAT BUAH LERAK
Banyak keunggulan lerak yang kini diterapkan dalam pembuatan sabun organik dengan orientasi ramah lingkungan. Manusia mesti menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam dan harus meminimalisir kegiatan-kegiatan yang merusak keseimbangan alam serta mencemari lingkungan karena akan berdampak pada kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Deterjen dari sabun sintetis termasuk salah satu produk manusia yang dipergunakan masal ( untuk mencuci, mandi, membersihkan lantai, dll ) dan menjadi limbah cair rumah tangga yang merusak ekosistem sungai dan perairan lainnya. Melihat dampak penggunaan detergen yang sulit terurai oleh bakteri dan mencemari air, maka penggunaannya selayaknya dikurangi. Dengan pemanfaatan produk-produk alami yang berfungsi sama dengan detergen, maka pencemaran air bisa dihindarkan. Salah satunya dengan menggunakan lerak.

2 komentar: